Hakikat Qada dan Qadar : Memperkaya Khazanah


Hakikat Qa«±' dan Qadar

1. Pengertian Qa«±' dan Qadar
Para ulama berbeda pandangan dalam memberikan arti kata Qa«±' dan
Qadar, sebagian ulama mengartikan sama, dan sebagian ulama yang lain
memberikan arti yang berbeda.
Pandangan yang membedakan antara Qa«±' dan Qadar, mendefiniskan
Qadar dengan “ilmu Allah Swt. tentang apa yang akan terjadi pada
makhluk di masa mendatang.” Sedangkan Qa«±' adalah “segala sesuatu
yang Allah Swt. wujudkan (adakan atau berlakukan) sesuai dengan ilmu
dan kehendaknya.” Sebagian ulama yang lain justru menerapkan definisi
di atas secara terbalik, yakni definisi Qa«±' dan Qadar ditukar.

Pendapat yang menyamakan Qa«±' dan Qadar memberikan definisi:
”Aturan baku yang diberlakukan oleh Allah Swt. terhadap alam ini, undangundang yang bersifat umum, dan hukum-hukum yang mengikat sebab
dan akibat”. Pengertian itu diilhami oleh beberapa ayat al-Qur'±n, seperti
firman Allah Swt.:
Artinya:

“Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan
kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala
sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya”. (Q.S. ar-Ra’«/13:8)
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Qa«±' menurut bahasa
berarti “menentukan atau memutuskan”, sedangkan menurut istilah
artinya “segala ketentuan Allah Swt. sejak zaman azali”. Adapun pengertian
Qadar menurut bahasa adalah “memberi kadar, aturan, atau ketentuan”.
Sedangkan menurut istilah berarti ”ketetapan Allah Swt. terhadap seluruh
makhluk-Nya tentang segala sesuatu”. Firman Allah Swt.:
Artinya:

“Yang kepunyaan-Nya lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai
anak, dan tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaan(Nya), dan Dia telah
Memperkaya Khazanah

menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya
dengan serapi-rapinya”. (Q.S. al-Furq±n/25:2)
Iman kepada Qa«±' dan Qadar artinya percaya dan yakin dengan
sepenuh hati bahwa Allah Swt. telah menentukan segala sesuatu bagi
makhluk-Nya. Menurut Yasin, iman kepada Qa«±' dan Qadar adalah
“mengimani adanya ilmu Allah Swt. yang qadīm dan mengimani adanya
kehendak Allah Swt. yang berlaku serta kekuasaan-Nya yang menyeluruh”.
Setiap muslim wajib mengimani Qa«±' dan Qadar Allah Swt., yang baik
ataupun yang buruk. Firman Allah Swt.:

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui
apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu
terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian
itu amat mudah bagi Allah.” (Q.S. al-Hajj/22:70)
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada
dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum
Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi
Allah”. (Q.S. al-Hadīd/57:22)
Iman kepada Qa«±' dan Qadar meliputi empat prinsip, sebagai berikut:

a. Iman kepada ilmu Allah Swt. yang Qadīm (tidak berpermulaan), dan
Dia mengetahui perbuatan manusia sebelum mereka melakukannya;

b. Iman bahwa semua Qadar Allah Swt. telah tertulis di Lauh Mahfuzh;

c. Iman kepada adanya kehendak Allah Swt. yang berlaku dan kekuasaanNya yang bersifat menyeluruh;

d. Iman bahwa Allah Swt. adalah Zat yang mewujudkan makhluk. Allah
Swt. adalah Sang Pencipta dan yang lain adalah makhluk.
Qa«±' dan Qadar biasa disebut dengan satu kata, “takdir”. Bagi manusia
dan makhluk lain, ada pandangan takdir baik dan buruk, tetapi dalam
pandangan Allah Swt., semua takdir itu baik, karena keburukan tidak
dinisbatkan kepada Allah Swt. Ilmu Allah Swt., kehendak-Nya, catatanNya, dan penciptaan-Nya semua itu adalah kebijaksanaan, keadilan, kasih

sayang, dan kebaikan. Keburukan bukanlah sifat Allah Swt. dan bukan pula
pekerjaan-Nya. Perhatikan firman Allah Swt. berikut:
“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikit pun,
akan tetapi manusia Itulah yang berbuat zalim kepada dirinya sendiri”
(Q.S.Yµnus/10:44)
2. Dalil-Dalil tentang Qa«±' dan Qadar
Allah Swt. menjelaskan tentang Qa«±' dan Qadar, melalui fiman-firmanNya, dan juga dalam beberapa hadis Rasulullah saw.,di antaranya
menyatakan:

a. Dalil al-Qur'±n

1) “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran
(takdir).” (Q.S. al-Qamar/54:49)

2) “Tidak ada suatu bencana apapun yang menimpa di bumi dan (tidak
pula) pada diri kalian melaikan telah tertulis dalam kitab (Lauh
Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang
demikian itu mudah bagi Allah.” (Q.S. al-Hadīd/57:22)

3) “Dan tiap-tiap manusia telah Kami tetapkan amal perbuatannya
(sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya.” (Q.S. al-Isr±’/17:13)

4) “Tidak ada sesutu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali
dengan izin Allah.” (Q.S. at-Tag±bun/64:11)

b. Dalil As-Sunah (Hadis Rasulullah)
Adapun penjelasan Rasulullah saw. tentang Qa«±' dan Qadar antara
lain diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam hadis berikut:

1) “Sesungguhnya penciptaan salah seorang dari kalian dikumpulkan
dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nuthfah
(sperma), kemudian berubah menjadi ‘alaqah (segumpal darah)
selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi mudghah
(sepotong daging) selama empat puluh hari, kemudian malaikat
dikirim kepadanya kemudian malaikat meniupkan ruh padanya,
dan malaikat tersebut diperintahkan empat hal: menuliskan rizkinya,
menuliskan ajalnya, menuliskan amal perbuatannya, dan menuliskan
apakah ia celaka, atau bahagia. Demi Dzat yang tidak ada Tuhan
yang berhak disembah kecuali Dia, sesungguhnya salah seorang dari
kalian pasti mengerjakan amal perbuatan penghuni surga, hingga
ketika jaraknya dengan surga cuma satu lengan, tiba-tiba ketetapan
berlaku padanya kemudian ia mengerjakan amal perbuatan
penghuni neraka, dan ia pun masuk neraka. Sesungguhnya salah
seorang dari kalian pasti mengerjakan amal perbuatan penghuni
neraka, hingga ketika jaraknya dengan neraka cuma satu lengan,
tiba-tiba ketetapan berlaku padanya kemudian ia mengerjakan amal
perbuatan penghuni surga, dan ia masuk surga.” (H.R. Muslim)

2) Dalam hadis yang lain, Rasulullah saw. bersabda yang artinya:
”Sesungguhnya seseorang itu diciptakan dalam perut ibunya
selama 40 hari dalam bentuk nuthfah, 40 hari menjadi segumpal
darah, 40 hari menjadi segumpal daging, kemudian Allah mengutus
malaikat untuk meniupkan ruh ke dalamnya dan menuliskan empat
ketentuan, yaitu tentang rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya,
dan (jalan hidupnya) sengsara atau bahagia.” (H.R.al-Bukhari dan
Muslim)
Dari hadis di atas dapat diketahui bahwa nasib manusia telah
ditentukan Qa«±' dan Qadarnya oleh Allah Swt. sejak sebelum ia
Buku Siswa Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti 25
dilahirkan. Walaupun setiap manusia telah ditentukan nasibnya, tidak
berarti bahwa manusia hanya tinggal diam menunggu nasib tanpa
berusaha dan ikhtiar. Manusia tetap berkewajiban untuk berusaha,
sebab keberhasilan tidak datang dengan sendirinya.

Aktivitas Siswa:
Masih banyak ayat al-Qur'±n dan hadis Nabi yang menjelaskan tentang
Qa«±' dan Qadar. Telusuri dan temukan ayat-ayat al-Qur'±n dan hadis Nabi
yang lain, jelaskan isi kandungannya!

3. Kewajiban beriman kepada Qa«±' dan Qadar
Diriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah saw. didatangi oleh seorang
laki-laki yang berpakaian serba putih, dan rambutnya sangat hitam. Lelaki
itu bertanya tentang Islam, Iman dan I¥s±n. Tentang keimanan, Rasulullah
menjawab yang artinya: “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikatmalaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman pula
kepada Qadar (takdir) yang baik ataupun yang buruk”. (H.R. Muslim).
Lelaki itu adalah Malaikat Jibril yang sengaja datang untuk memberikan
pelajaran agama kepada umat Nabi Muhammad saw. Jawaban Rasulullah
yang dibenarkan oleh Malaikat Jibril itu berisi rukun iman. Salah satu dari
rukun iman itu adalah iman kepada Qa«±' dan Qadar. Dengan demikian,
mempercayai Qa«±' dan Qadar merupakan kewajiban. Kita harus yakin
dengan sepenuh hati bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita,
baik yang menyenangkan maupun yang tidak adalah atas kehendak atau
takdir Allah Swt.

Sebagai orang beriman, kita harus rela menerima segala ketentuan Allah
Swt. atas diri kita. Di dalam sebuah hadis qudsi Allah Swt. berfirman yang
artinya:

”Siapa yang tidak ri«± dengan Qa«±'-Ku dan Qadar-Ku dan tidak sabar
terhadap bencana-Ku yang aku timpakan atasnya, maka hendaklah mencari
Tuhan selain Aku”. (H.R.at-Tabrani)
Takdir Allah Swt. merupakan iradah (kehendak) Allah Swt.. Oleh sebab
itu, takdir tidak selalu sesuai dengan keinginan kita. Tatkala takdir sesuai
dengan keinginan kita, hendaklah kita bersyukur karena hal itu merupakan
nikmat yang diberikan Allah Swt. kepada kita. Ketika takdir yang kita alami
tidak menyenangkan atau merupakan musibah, maka hendaklah kita
terima dengan sabar dan ikhlas. Kita harus yakin, bahwa di balik musibah
itu ada hikmah yang terkadang kita belum mengetahuinya. Allah Swt.
Maha Mengetahui atas apa yang diperbuat-Nya.

4. Macam-Macam Takdir
Mengenai hubungan antara Qa«±' dan Qadar dengan ikhtiar, do’a dan
tawakal ini, para ulama berpendapat, bahwa takdir itu ada dua macam
seperti dibawah ini:

a. Takdir Mua’llaq
Takdir Mua’llaq adalah takdir yang erat kaitannya dengan ikhtiar
manusia. Misalnya, seorang siswa bercita-cita ingin menjadi insinyur
pertanian. Untuk mencapai cita-citanya itu ia belajar dengan tekun.
Akhirnya apa yang ia cita-citakan menjadi kenyataan. Ia menjadi
insinyur pertanian. Dalam hal ini Allah Swt. berfirman:

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya
bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas
perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu
kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu
kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada
pelindung bagi mereka selain Dia”. (Q.S ar-Ra’d/13:11)

b. Takdir Mubram
Takdir Mubram adalah takdir yang terjadi pada diri manusia dan tidak
dapat diusahakan atau tidak dapat ditawar-tawar lagi oleh manusia.
Misalnya, ada orang yang dilahirkan dengan mata sipit, atau dilahirkan
dengan kulit hitam sedangkan ibu dan bapak kulit putih, dan
sebagainya.

Aktivitas Siswa:

Kalian tentu pernah mendengar seseorang yang memiliki alat kelamin
laki-laki tetapi berperilaku seperti perempuan. Kemudian orang tersebut
menjalani operasi ganti kelamin. Bagaimana komentar kalian terhadap
masalah tersebut ditinjau dari sudut pandang keimanan kepada takdir
Allah Swt.? Sampaikan pendapat kalian dengan argumen yang logis dan
mendasar di hadapan kelompok lain!

B. Makna Beriman kepada Qa«±' dan Qadar
Qa«±' dan Qadar atau takdir berjalan menurut hukum “sunnatullah”. Artinya
keberhasilan hidup seseorang sangat tergantung sejalan atau tidak dengan
sunnatullah. Sunnatullah adalah hukum-hukum Allah Swt. yang disampaikan
untuk umat manusia melalui para Rasul, yang tercantum di dalam al-Qur'±n
berjalan tetap dan otomatis. Misalnya malas belajar berakibat bodoh,tidak
mau bekerja akan miskin, menyentuh api merasakan panas, menanam benih
akan tumbuh dan lain-lain.

Buku Siswa Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti 27
Kenyataan menunjukkan bahwa siapa pun orangnya tidak mampu mengetahui
takdirnya. Jangankan peristiwa masa depan, hari esok terjadi apa, tidak ada
yang mampu mengetahuinya. Siapa pun yang berusaha dengan sungguhsungguh sesuai hukum-hukum Allah Swt. disertai dengan do’a, ikhlas dan
tawakal kepada Allah Swt., dipastikan akan memperoleh keberhasilan dan
mendapatkan cita-cita sesuai tujuan yang ditetapkan.

Berkaitan dengan makna beriman kepada Qa«±' dan Qadar, dapat diketahui
bahwa nasib manusia telah ditentukan Allah Swt. sejak sebelum ia dilahirkan.
Walaupun setiap manusia telah ditentukan nasibnya, tidak berarti bahwa
manusia hanya tinggal diam menunggu nasib tanpa berusaha dan ikhtiar.
Manusia tetap berkewajiban untuk berusaha, sebab keberhasilan tidak datang
dengan sendirinya.

Janganlah sekali-kali menjadikan takdir itu sebagai alasan untuk malas
berusaha dan berbuat kejahatan. Pernah terjadi pada zaman Khalifah Umar bin
Khattab, seorang pencuri tertangkap dan dibawa ke hadapan Khalifah Umar.
” Mengapa Engkau mencuri?” tanya Khalifah. Pencuri itu menjawab, ”Memang
Allah sudah menakdirkan saya menjadi pencuri”. Mendengar jawaban demikian,
Khalifah Umar marah, lalu berkata, ” Pukul saja orang ini dengan cemeti, setelah
itu potonglah tangannya!” para sahabat lain bertanya, ” Mengapa hukumnya
diberatkan seperti itu?”Khalifah Umar menjawab, ”Ya, itulah yang setimpal. Ia
wajib dipotong tangannya sebab mencuri dan wajib dipukul karena berdusta
atas nama Allah”.

Beriman kepada takdir selalu terkait dengan 4 (empat) hal yang selalu
berhubungan dan tidak terpisahkan. Keempat hal itu adalah iman kepada
takdir itu sendiri, ikhtiar, do’a, dan tawakal.

a. Takdir
Mengapa manusia tidak mampu terbang laksana burung, tumbuhtumbuhan berkembang subur, lalu layu, dan kering. Rumput-rumput
subur bila selalu disiram dan sebaliknya bila dibiarkan tanpa pemeliharaan
akan mati. Semua contoh tersebut, adalah ketentuan Allah Swt. dan itulah
yang disebut Takdir.

Manusia mempunyai kemampuan terbatas sesuai dengan ukuran yang
diberikan Allah Swt. kepadanya Di samping itu, manusia berada di
bawah hukum-hukum tersebut (Qauliyah dan Kauniyah). Hanya berbeda
dengan makhluk selain manusia, misalnya matahari, bulan dan planet
lainnya, seluruhnya ditetapkan takdirnya tanpa bisa ditawar-tawar. (Q.S.
Fu££il±t/41:11)

Manusia makhluk yang paling sempurna, oleh karena itu ia diberi
kemampuan memilih bahkan pilihannya cukup banyak. Manusia dapat
memilih ketentuan (takdir) Allah Swt. yang ditetapkan keberhasilan atau
kemalangan, kebahagiaan atau kesengsaraan, menjadi orang yang baik atau
tidak. (Q.S. al-Kahfi/18:29). Namun harus diingat setiap pilihan yang diambil
manusia. Pada saat yang sama manusia diminta pertanggungjawaban
terhadap pilihannya, karena dilakukan atas kesadaran sendiri. Firman Allah
Swt.:

 “Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,
sungguh beruntung orang yang mensucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi
orang yang mengotorinya” (Q.S. asy-Syams/91:8-10)
"Apakah manusia mengira dibiarkan tanpa pertanggungjawaban?” (Q.S. AlQiyamah/75:36).
Beberapa tamsil peristiwa ini akan dapat memudahkan dalam memahami
persoalan takdir.

Dikisahkan ketika Umar bin Khattab akan berkunjung ke negeri Syam
(Syiria dan Palestina sekarang) beliau mendengar berita bahwa di sana
sedang terjadi wabah penyakit, sehingga beliau membatalkan rencananya
tersebut. Kemudian seseorang tampil bertanya: “(Apakah Anda lari/
menghindar dari takdir Allah?)” Umar serta merta menjawab: “(Saya lari/
menghindari dari takdir Allah kepada takdir-Nya yang lain)”

Sejak zaman Rasulullah saw. telah terjadi kekeliruan dalam menyikapi takdir,
salah satunya beliau bersabda:“Pada akhir zaman ada suatu golongan yang
berbuat kemaksiatan, dengan (sangat enaknya) mereka berkata: “Allah Swt.
telah menakdirkan saya mencuri.”

Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan kesalahan dalam memahami
takdir, padahal dengan tegas Allah Swt. melarangnya. Akhlak yang diajarkan
Islam adalah setiap keburukan yang menimpa merupakan kesalahan kita
sebagai manusia, sementara segala kebaikan dan keberhasilan merupakan
anugerah Allah Swt.

b. Ikhtiar
Ikhtiar adalah berusaha dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati
dalam menggapai cita-cita dan tujuan. Allah Swt. menentukan takdir, kita
sebagai manusia berkewajiban melakukan ikhtiar. Jika Allah Swt. telah
menentukan, kenapa ada ikhtiar?

Perhatikan Firman Allah Swt. dalam Q.S.al-Anbiyaa’/21:90 yang
artinya:”Sungguh mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera
dalam(mengerjakan) perbuatan-perbuatan baik” Kemudian dalam Q.S.alMukminuun/23:60, Allah Swt. Berfirman:” Mereka itu bersegera untuk
mendapatkan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera
memperolehnya”

Dari beberapa ayat di atas, Allah Swt. mendorong manusia untuk
berusaha, berlomba, dan berkompetisi menjadi orang yang tercepat.
Siapa pun yang berusaha dengan sungguh-sungguh, berarti dia sedang
menuju keberhasilan. Pepatah Arab mengatakan “Man jadda wajada”,
Artinya:“Siapa pun orangnya yang bersungguh-sungguh akan memperoleh
keberhasilan”.

Rasulullah saw. bersabda: ”Bersegeralah melakukan aktivitas kebajikan
sebelum dihadapkan pada tujuh penghalang. Akankah kalian menunggu
kekafiran yang menyisihkan, kekayaan yang melupakan, penyakit yang
menggerogoti, penuaan yang melemahkan, kematian yang pasti, ataukah
Buku Siswa Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti 29
Dajjal, kejahatan terburuk yang pasti datang, atau bahkan kiamat yang
sangat amat dahsyat?”(HR. at-Tirmid©i).

Jika sudah diikhtiarkan namun kegagalan yang diperoleh, maka dalam
hubungan inilah letak “rahasia Ilahi.” Meskipun begitu, Allah Swt. tidak
menyia-nyiakan semua amal yang sudah dilakukan, walaupun gagal.
Firman Allah Swt.: “ Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa
yang telah diusahakannya, dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan
diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan
balasan yang paling sempurna”. (Q.S. an-Najm/53:39-41).

Berdasarkan penjelasan di atas, jelaslah kenapa Allah Swt. mewajibkan
manusia berikhtiar. Walaupun sudah ditentukan Qa«±' dan qadarnya, di
pundak manusia lah kunci keberhasilan dan keberuntungan hidupnya.
Di samping itu, begitu banyak anugerah yang telah Allah Swt. berikan
kepada manusia berupa: naluri, panca indera, akal, kalbu, dan aturan
agama, sehingga lengkaplah sudah bekal yang dimiliki manusia menuju
kebahagiaan hidup yang diinginkan.

c. Doa
Doa adalah ikhtiar batin yang besar pengaruhnya bagi manusia yang
meyakininya. Hal ini karena doa merupakan bagian dari motivasi
intrinsik. Bagi yang meyakini, doa akan memberikan energi dalam
menjalani ikhtiarnya, karena Allah Swt. telah berjanji untuk mengabulkan
permohonan orang yang bersungguh-sungguh memohon. Firman Allah
Swt.: “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa, apabila ia berdoa
kepada-Ku, ..” (Q.S. al-Baqarah/2:186)

d. Tawakal
Setelah meyakini dan mengimani takdir, kemudian dibarengi dengan
ikhtiar dan do’a, maka tibalah manusia mengambil sikap tawakal. Tawakal
adalah “menyerahkan segala urusan dan hasil ikhtiarnya hanya kepada
Allah Swt.”.

Dasar pengertian tawakal diambil dari peristiwa yang terjadi pada zaman
Rasulullah saw.: Pada suatu hari datang seorang sahabat ke kediaman
Rasulullah dengan mengendarai unta. Sesampainya di depan rumah
beliau, (ada peristiwa ganjil menurut pandangan Rasulullah), sehingga
beliau berkata: “Kenapa unta kalian tidak ditambatkan?” Ia menjawab:
“Tidak ya Rasulullah, karena saya telah bertawakal.” Kemudian Rasulullah
berkata: “Tambatkan dulu unta kalian, baru bertawakal!”
Peristiwa ini menyimpulkan pemahaman bahwa sikap tawakal baru boleh
dilakukan setelah usaha yang sungguh-sungguh sudah dijalankan. Hal
ini juga memberikan pemahaman bahwa tawakal itu terkait erat dengan
ikhtiar, atau dapat disimpulkan bahwa tidak ada tawakal tanpa ikhtiar.
Firman Allah Swt.:”Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka
bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang bertawakal kepada-Nya.”(Q.S.Ali-Imran/3:159).

Aktivitas Siswa (Membuat Video Pendek):
Tema : “Menyikapi takdir dengan ikhtiar dan tawakal”
Deskripsi: Buatlah skenario yang menggambarkan adanya orang yang sukses
karena keyakinannya kepada takdir, bekerja keras (ikhtiar), dan diiringi doa
sebagai bentuk kepasrahan (tawakal). Di sisi lain, ada seorang yang lebih
banyak berdoa, sedangkan ikhtiarnya dilakukan sambil bermalas-malasan.
Ketentuan:

1. Buatlah rancangan skenario untuk diperankan dalam durasi kira-kira 10
menit!

2. Judul harus berbeda setiap grup/kelompok, tetapi masih dalam tema
besar yang sama.

3. Buat setting cerita yang akhirnya-nya dapat menginspirasi penonton
untuk menyikapi takdir dengan bekerja keras!

4. Pilih personil untuk menjadi pemeran masing-masing karakter (semakin
banyak fokus semakin bagus), termasuk yang berperan sebagai sutradara,
kameramen, dan crew lain!

5. Lakukan acting sesuai peran dengan penuh penghayatan!

6. Rekam setiap adegan/episod dengan alat perekam video yang layak atau
alat perekam lain.

7. Setelah selesai, lakukan video edit sehingga enak ditonton!

8. Tampilkan karya kalian di ruang studio/multimedia/ruang lain yang
memungkinkan!

9. Tanggapi secara bergantian dengan kelompok lain!

10.Jika dirasa layak, upload ke Youtube dengan nama video pendidikan!
(jika diperlukan, bisa berkolaborasi dengan kelompok lain, dua atau tiga
kelompok)
Buku Siswa Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti 31
C. Hikmah Beriman kepada Qa«±' dan Qadar

1. Semakin meyakini bahwa segala
sesuatu yang terjadi di alam ini
tidak lepas dari sunnatullah;

2. Semakin termotivasi untuk
senantiasa berikhtiar atau
berusaha lebih giat lagi dalam
mengejar cita-citanya.

3. Meningkatkan keyakinan akan
pentingnya peran doa bagi
keberhasilan sebuah usaha;

4. Meningkatkan optimisme
dalam menatap masa depan
dengan ikhitar yang sungguhsungguh;

5. Meningkatkan kekebalan jiwa
dalam menghadapi segala
rintangan dalam usaha
sehingga tidak berputus asa
ketika mengalami kegagalan;

6. Menyadarkan manusia bahwa
dalam kehidupan ini dibatasi
oleh peraturan-peraturan Allah
Swt., yang tujuannya untuk
kebaikan manusia itu sendiri
Hukum Allah (Sunnatullah)
“Sesungguhnya Allah tidak
akan mengubah keadaan suatu
kaum,sehingga mereka mengubah
keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri”. (Q.S. ar-Ra’d/ 13:11)

Kesuksesan kalian tidak akan terwujud
tanpa melakukan perubahan dari
dalam. Untuk menghasilkan suatu
kebaikan bagi diri kalian, dituntut
untuk menanamkan benih kebaikan.
Perbuatan tidak produktif dan
bermalas-malasan menyebabkan
kalian akan terpuruk. Bila
kenyataannnya demikian,apa yang
kurang dari kalian?

Karena itu ubahlah kondisi dalam
diri kalian,sehingga Allah mengubah
kondisi sulit atau ketidaksuksesan
kalian yang sedang kalian hadapi.
Jangan menjadi pemimpi yang berdiri
di pohon labu, kemudian memohon
kepada Allah agar memberikan apel.
Bagaimana mungkin hal itu dapat
terjadi? Siapa yang menginginkan apel,
sudah barang tentu harus menanam
dan merawatnya.

(Disadur dari Urgensi Sebuah Usaha
dalam Revolusi Diri karya Amru Khalid)

Aktivitas Siswa:

Temukan lebih banyak lagi hikmah-hikmah yang dapat dipetik dari
keimanan kepada Qa«±' dan Qadar!

Rangkuman

Perilaku seseorang yang mencerminkan kesadaran beriman kepada Qa«±' dan
Qadar Allah Swt., dicerminkan dalam beberapa perilaku seseorang di antaranya
sebagai berikut:

1. Selalu menjauhkan diri dari sifat sombong dan putus asa
Orang yang beriman kepada Qa«±' dan Qadar, apabila memperoleh
keberhasilan, ia menganggap keberhasilan itu adalah semata-mata karena
rahmat Allah. Apabila ia mengalami kegagalan, ia tidak mudah berkeluh kesah
dan berputus asa, karena ia menyadari bahwa kegagalan itu sebenarnya
adalah ketentuan Allah. Ia menyadari bahwa dibalik kegagalan ada hikmah.

2. Banyak bersyukur dan bersabar
Orang yang beriman kepada Qa«±' dan Qadar, apabila mendapat
keberuntungan, maka ia akan bersyukur, karena keberuntungan itu merupakan
nikmat Allah yang harus disyukuri. Sebaliknya apabila terkena musibah maka
ia akan sabar, karena hal tersebut merupakan ujian. Perhatikan Firman Allah
Q.S.at-Taubat/9:51!

3. Bersikap optimis dan giat bekerja
Manusia tidak mengetahui takdir apa yang terjadi pada dirinya. Semua orang
tentu menginginkan bernasib baik dan beruntung. Keberuntungan itu tidak
datang begitu saja, tetapi harus diusahakan. Oleh sebab itu, orang yang
beriman kepada Qa«±' dan Qadar senantiasa optimis dan giat bekerja untuk
meraih kebahagiaan dan keberhasilan itu. Perhatikan Firman Allah Q.S.²liImr±n/3:159!

4. Selalu tenang jiwanya
Orang yang beriman kepada Qa«±' dan Qadar senantiasa tenang hidupnya,
sebab ia selalu senang atas apa yang ditentukan Allah kepadanya. Jika
beruntung atau berhasil, ia bersyukur.
Menerapkan Perilaku Mulia

1. Ketetapan Allah di zaman azali disebut Qa«±'. Kenyataan bahwa saat
terjadinya sesuatu yang menimpa mahluk Allah disebut Qadar atau takdir.
Dengan kata lain bahwa Qadar adalah perwujudan dari Qa«±'.

2. Antara Qa«±' dan Qadar saling berkaitan. Qa«±' adalah ketentuan, hukum
atau rencana Allah Swt. sejak zaman azali. Qadar adalah kenyataan dari
ketentuan atau hukum Allah. Jadi hubungan antara Qa«±' dan Qadar
ibarat rencana dan perbuatan. Perbuatan Allah berupa Qadar-Nya sesuai
dengan ketentuan-Nya.

3. Iman kepada Qa«±' dan Qadar artinya percaya dan yakin dengan sepenuh
hati bahwa Allah Swt. telah menentukan tentang segala sesuatu bagi
makhluknya.

4. Beriman kepada Qa«±' dan Qadar merupakan salah satu rukun iman.
Seorang muslim tidak sempurna dan sah imannya kecuali beriman kepada
Qa«±' dan Qadar Allah Swt.

5. Takdir Allah merupakan iradah (kehendak) Allah. Oleh sebab itu, takdir
tidak selalu sesuai dengan keinginan kita.

6. Orang yang beriman dengan sebenar-benarnya kepada Qa«±' dan Qadar
akan senantiasa menjauhkan diri dari sifat sombong dan putus asa,
memiliki sifat optimis, giat bekerja , dan selalu tenang jiwanya.

7. Nasib manusia telah ditentukan Allah sejak sebelum manusia dilahirkan.
Walaupun setiap manusia telah ditentukan nasibnya, tidak berarti bahwa
manusia hanya tinggal diam menunggu nasib tanpa berusaha atau ikhtiar.
Manusia tetap berkewajiban untuk berusaha, sebab keberhasilan tidak
datang dengan sendirinya.

8. Dengan beriman kepada Qa«±' dan Qadar, banyak hikmah yang amat
berharga bagi manusia dalam menjalani kehidupan didunia dan
mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.

Tugas Kelompok

Kegiatan Kelompok
1. Buatlah lima kelompok, 1 kelompok terdiri atas 6-7 orang!
2. Salinlah Q.S. at-Taubah/9:105 dan Q.S. ²li 'Imr±n/3:159, lengkap
dengan terjemahnya dan jelaskan isi kandungannya!
3. Cari ayat-ayat al-Qur’±n yang berkaitan dengan tema diatas!

Evaluasi

I. Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, d, atau e yang dianggap sebagai
jawaban yang paling tepat!

1. Perhatikanlah Q.S. al-Furq±n/25:2 di bawah ini!
Makna yang terkandung dalam ayat tersebut di atas adalah bahwa Allah
Swt. yang sudah menciptakan segala sesuatu, dan Allah juga yang sudah
menentukan . . . .
a. ukuran-ukurannya
b. panjang pendeknya
c. posisi-posisinya
d. besar kecilnya
e. baik buruknya

2. Akhlak yang diajarkan Agama Islam dalam memahami Qa«±' dan Qadar
adalah . . . .
a. setiap keburukan kesalahan manusia dan kebaikan adalah anugerahNya
b. berbuat baiklah, sebagaimana Anda ingin diperlakukan dengan baik
c. keteladanan merupakan kunci keberhasilan pergaulan sesama
d. sibukkanlah mencari kekurangan yang ada dalam diri
e. kesuksesan dunia menentukan kesuksesan akhirat

3. Pernyataan yang termasuk dalam contoh ketentuan dari takdir mubram
adalah . . . .
a. hidup yang benar, beriman atau kafir, sukses atau gagal, sedih atau
gembira
b. karier yang bagus, rumah tangga yang sejahtera, anak-anak yang salih
c. kaya dan miskin, cerdas dan bodoh, sehat dan sakit, sejahtera dan
sengsara
d. saat kematian datang , kelahiran, jenis kelamin, siapa orangtua kita
e. harapan serta cita-cita, harta, jabatan, ilham, dan ilmu pengetahuan

4. Tidak semua doa yang dipanjatkan dikabulkan oleh Allah Swt. Pernyataan
di bawah ini kemungkinan belum dikabulkannya doa tersebut, kecuali . . .
a. saatnya belum tepat
b. sebagai tabungan di akhirat
c. ditangguhkan sampai di akhirat
d. tidak baik hasilnya
e. sebagai hukuman

5. Perhatikanlah pernyataan berikut ini!
1) Penuh optimis dalam menjalani hidup
2) Senantiasa berorientasi kepada prestise
3) Tidak memiliki harga diri dalam bergaul
4) Pandai memanfaatkan kesempatan dalam hidup
Buku Siswa Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti 35
5) Memiliki etos kerja yang tinggi dalam beraktivitas
6) Tidak mudah putus asa bila menghadapi kegagalan
Pernyataan di atas yang tidak termasuk hikmah beriman kepada Qa«±' dan
Qadar adalah nomor . . . .
a. 1), 2) dan 4)
b. 2), 3) dan 5)
c. 2), 3) dan 4)
d. 1), 4) dan 6)
e. 1), 5) dan 6)

II. Isilah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan jawaban yang singkat dan
benar.

a. Segala sesuatu yang sudah ditetapkan Allah Swt. atas manusia sudah
ditentukan sejak zaman . . . .
b. Ketetapan dan ketentuan Allah Swt. atas manusia sudah tertulis di . . . .
c. Ketentuan dan ketetapan Allah Swt. yang baru merupakan ketetapan
belum terlaksana disebut . . . .
d. Suatu ketentuan Allah Swt. yang akan diberlakukan kepada makhluk-Nya,
setelah terlahir ke dunia disebut . . . .
e. Yang dimaksud dengan sunnatullah adalah . . . .
f. Tanda-tanda kebesaran Allah Swt. yang terhampar di alam raya disebut . . .
g. Permohonan atas segala sesuatu yang diinginkan manusia terhadap Allah
Swt. disebut . . . .
h. Kematian merupakan contoh dari takdir . . . .

III. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan benar!

1. Jelaskan hubungan antara takdir, ikhtiar, doa dan tawakal!
2. Sebutkan alasan mengapa manusia diwajibkan ikhtiar!
3. Uraikan mengapa Rasulullah saw. dan sahabat utama beliau tidak pernah
mempersoalkan takdir!
4. Sebutkan 5 macam anugerah Allah Swt. yang telah diberikan manusia
sebagai bekal agar tidak salah dalam menempuh kehidupannya!
5. Salinlah, terjemahkan dan jelaskan kandungan isi dari Q.S. an Najm/43:39-
42?
6. Mengapa manusia harus bertawakal!
7. Jelaskan manfaat berdoa bagi orang beriman!
8. Sebutkan fungsi beriman kepada Qa«±' dan Qadar!
9. Mengapa tidak semua doa yang dipanjatkan selalu dikabulkan Allah Swt.!
10. Kapan waktu yang tepat untuk memanjatkan doa pada Allah Swt.!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel